Home » Penyakit » Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronik Penyebab dan Pengobatan

Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronik Penyebab dan Pengobatan

Gejala penyakit paru obstruktif kronik, penyebab dan pengobatannya kami rasa layak dipelajari dan ditampilkan di situs CaraSehat.org ini. Barang kali ada diantara Anda yang membutuhkan informasi seputar Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau sering disingkat PPOK.

Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronik Penyebab dan Pengobatan

Definisi dan Pengertian PPOK

Penyakit paru obstruksi kronik adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronik, bronkiektasis, emfisema dan asma, yang merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru

Penyakit paru obstruksi kronik adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan saluran napas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa waktu.

PPOK adalah penyakit paru kronik yang progresif, artinya penyakit ini berlangsung seumur hidup dan semakin memburuk secara lambat dari tahun ke tahun. Dalam perjalanan penyakit ini terdapat fase-fase eksaserbasi akut.

Gejala PPOK

Tanda-tanda dan gejala kemunculan PPOK sering kali berkaitan dengan respirasi. Keluhan respirasi ini harus diperiksa dengan teliti karena seringkali dianggap sebagai gejala yang biasa terjadi pada proses penuaan. Berikut ini adalah beberapa gejala yang muncul pada penderita penyakit paru obstruktif kronik:

  • Batuk kronik – adalah batuk hilang timbul selama 3 bulan yang tidak hilang dengan pengobatan yang diberikan.
  • Berdahak kronik – kadang kadang pasien menyatakan hanya berdahak terus menerus tanpa disertai batuk.
  • Sesak nafas, terutama pada saat melakukan aktivitas. Seringkali pasien sudah mengalami adaptasi dengan sesak nafas yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini tidak dikeluhkan.

Gejala dan tanda-tanda PPOK lainnya adalah sebagai berikut:

  • Bentuk dada barrel chest (dada seperti tong)
  • Terdapat cara bernapas purse lips breathing (seperti orang meniup)
  • Terlihat penggunaan dan hipertrofi (pembesaran) otot bantu nafas
  • Pelebaran sela iga
  • Hipersonor
  • Fremitus melemah,
  • Suara nafas vesikuler melemah atau normal
  • Ekspirasi memanjang
  • Mengi (biasanya timbul pada eksaserbasi)
  • Ronki

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada diagnosis PPOK untuk mengetahui gejalanya lebih lanjut antara lain :

  • Radiologi (foto toraks)
  • Spirometri
  • Laboratorium darah rutin (timbulnya polisitemia menunjukkan telah terjadi hipoksia kronik)
  • Analisa gas darah
  • Mikrobiologi sputum (diperlukan untuk pemilihan antibiotik bila terjadi eksaserbasi)

Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologis masih normal pada PPOK ringan tetapi pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis banding dari keluhan pasien.

Hasil pemeriksaan radiologis dapat berupa kelainan :

  • Paru hiperinflasi atau hiperlusen
  • Diafragma mendatar
  • Corakan bronkovaskuler meningkat
  • Bulla
  • Jantung pendulum

Dinyatakan PPOK (secara klinis) apabila sekurang-kurangnya pada anamnesis ditemukan adanya riwayat pajanan faktor risiko disertai batuk kronik dan berdahak dengan sesak nafas terutama pada saat melakukan aktivitas pada seseorang yang berusia pertengahan atau yang lebih tua.

Penyebab dan faktor risiko PPOK

Penyebab utama PPOK yang sering dilaporkan adalah akibat kebiasaan merokok serta polusi udara atau kondisi udara yang buruk. Berbagai faktor berperan pada perjalanan penyakit ini, antara lain faktor resiko yaitu faktor yang menimbulkan atau memperburuk penyakit seperti kebiasaan merokok, polusi udara, polusi lingkungan, infeksi, genetik dan perubahan cuaca.

Derajat obtruksi saluran nafas yang terjadi, dan identifikasi komponen yang memugkinkan adanya reversibilitas. Tahap perjalanan penyakit dan penyakit lain diluar paru seperti sinusitis dan faringitis kronik. Yang pada akhirnya faktor-faktor tersebut membuat perburukan makin lebih cepat terjadi. Untuk melakukan penatalaksanaan PPOK perlu diperhatikan faktor-faktor tersebut, sehingga pengobatan PPOK menjadi lebih baik.

Langkah penyembuhan, pengobatan dan pencegahan PPOK

Beberapa langkah pengobatan dan penyembuhan dapat dilakukan, utamanya secara medis. Namun Anda juga perlu tahu cara pencegahannya, yaitu dengan membuang jauh factor penyebab dan risiko PPOK.

Pengobatan, penyembuhan dan rehabilitasi PPOK adalah sebagai berikut:

  • Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala tidak hanya pada fase akut, tetapi juga fase kronik.
  • Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian.
  • Mengurangi laju progresivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksi lebih awal.
  • Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan merokok, menghindari polusi udara.
  • Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara.
  • Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi antimikroba tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat sesuai dengan kuman penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau pengobatan empirik.
  • Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih kontroversial.
  • Pengobatan simtomatik.
  • Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.
  • Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan dengan aliran lambat 1 – 2 liter/menit.
  • Sedangkan tindakan rehabilitasi PPOK meliputi:
  • Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret bronkus.
  • Latihan pernapasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan pernapasan yang paling efektif.
  • Latihan dengan beban oalh raga tertentu, dengan tujuan untuk memulihkan kesegaran jasmani.
  • Vocational guidance, yaitu usaha yang dilakukan terhadap penderita dapat kembali mengerjakan pekerjaan semula.

Pada masa rehabilitasi, pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi.

Komplikasi yang menyertai PPOK

Dalam perkembangannya, Penyakit Paru Obstruktif Kronik sering kali muncul bersama berbagai penyakit lainnya, antara lain:

  • Hipoxemia – didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg, dengan nilai saturasi Oksigen
  • Asidosis Respiratory – timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala, fatique, lethargi, dizzines, tachipnea.
  • Infeksi Respiratory – infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus, peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea.
  • Gagal jantung – terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini.
  • Cardiac Disritmia – timbul akibat dari hipoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis respiratory.
  • Status Asmatikus – merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan.

Semoga saja artikel tentang gejala dan tanda-tanda, penyebab, pengobatan, penyembuhan, rehabilitasi serta pencegahan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) ini bermanfaat bagi Anda.

Baca juga: